Menemukan seseorang yang mencintai lingkungan sama sulitnya dengan menemukan sebuah jarum ditumpukan jerami. Tidak semua orang peduli dengan lingkungan dan menjadi salah satu Duta Adiwiyata sekolah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi setiap orang.

            Duta Adiwiyata SMAN 1 Purwosari, terbentuk dari siswa yang awalnya sukarela menjadi perwakilan dari masing-masing kelas. Dan dari seluruh perwakilan tersebut, diseleksi oleh pihak sekolah dengan pertimbangan yang matang dan terpilihlah delapan siswa yang akhirnya menjadi Duta Adiwiyata SMAN 1 Purwosari. Siswa-siswa yang terpilih dibagi menjadi dua Tim yaitu Tim kelas X dan Tim kelas XI. Tim kelas X beranggotakan Syukron Afandi (X MIPA 5), Yoko Oktavian (X MIPA 6), Desi Rahmadinta Damayanti (X IPS 3), dan Ifa Nur Faizah (X IPS 1). Sedangkan Tim kelas XI terdiri dari Uswatun Khasanah (XI MIPA 3), Iqbal Agung Aminullah (XI MIPA 2), Rohmat Dhani (XI MIPA 5), dan Bella Nur Famelia (XI MIPA 6).

            Menjadi bagian dari Tim Adiwiyata SMANESA yang bertujuan untuk mensukseskan Adiwiyata Mandiri SMAN 1 Purwosari merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar karena mereka dituntut untuk menjadi panutan bagi semua siswa agar peduli terhadap lingkungan, mensosialisasikan pentingnya Adiwiyata, lebih meningkatkan keaktifan pokja pokja dan untuk menggerakkan hal tersebut dibutuhkan sebuah kerja sama, komitmen dan tidak hanya sekedar wacana tetapi ada gerakan yang nyata dari seluruh warga sekolah demi tercapainya lingkungan sekolah yang bersih, tidak hanya dalam rangka mensukseskan adiwiyata saja namun diharapkan ssiwa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari. Namun, saat ini Tim Adiwiyata masih belum dikerahkan karena kendala pada persyaratan untuk menuju adiwiyata mandiri bagi SMAN 1 Purwosari masih belum bisa terpenuhi.

            Untuk menangani masalah sampah dan kesadaran warga sekolah, perlu penyadaran diri sendiri, memberikan contoh, atau bisa juga dengan memberikan sanksi yang tegas. Pembentukan pokja merupakan salah satu upaya dalam menyadarkan siswa tentang kesadaran Adiwiyata. Meskipun pokja pokja di sekolah sudah dilakukan, tetapi pengerjaannya masih belum maksimal dan hanya dilakukan bila ada kegiatan-kegiatan tertentu saja. Sekolah juga sudah memfasilitasi kita untuk menumbuhkan rasa cinta dan peduli terhadap lingkungan seperti mesin pembuat pupuk kompos, tempat sampah baru dll. Hanya saja tingkat kesadaran warga sekolah yang kurang dan harus dibenahi.

            Untuk menumbuhkan kesadaran seluruh warga sekolah pasti dibutuhkan suatu proses seperti pepatah sedikit demi sedikit lama lama akan menjadi bukit. Sama halnya dengan masalah lingkungan jika kita tidak memulai sekarang kapan lagi, dan jika bukan kita yang memulai siapa lagi? Bumi ini sudah cukup kotor untuk kita kotori lagi. Nah, bagaimana cara kita untuk sedikit demi sedikit merelokasikan bumi ini supaya menjadi lebih baik bukan malah dikotori meskipun tidak kembali seperti aslinya.

            Kelayakan sebuah sekolah dikatakan sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri bukan dilihat dari pantas tidaknya sekolah tersebut, tetapi bagaimana cara sekolah itu memperjuangkan dan bisa meraih Adiwiyta Mandiri. Harapan untuk Adiwiyata SMAN 1 Purwosari, semoga berhasil meraih Adiwiyata Mandiri dan setelah berhasil kita bisa mempertahankan apa yang sudah kita komitmenkan dari awal.

Cari